
Nexify - Di tengah badai kegagalan di Champions League, manajemen Juventus justru mengambil sikap mengejutkan terkait masa depan kursi kepelatihan. CEO Damien Comolli menegaskan bahwa klub tidak akan melakukan perombakan drastis di posisi manajer.
Masa depan pelatih Luciano Spalletti memang sedang dipertanyakan setelah Juventus gagal di Liga Champions. Bianconeri disingkirkan Galatasaray pada laga playoff babak 16 besar UCL.
Damien Comolli secara terbuka memberikan jaminan keamanan bagi Luciano Spalletti untuk tetap menakhodai Juventus. Baginya, stabilitas jauh lebih penting daripada sekadar bereaksi secara emosional pasca kekalahan.
Juventus ingin memutus rantai buruk yang sering bergonta-ganti pelatih dalam waktu singkat. Comolli percaya bahwa identitas tim saat ini sedang terbentuk dengan sangat baik di bawah arahan Spalletti.
Keputusan ini didasari oleh analisis data rasional, bukan sekadar mengikuti gejolak amarah publik. Manajemen memilih untuk tetap setia pada strategi jangka panjang yang telah disusun sejak awal musim.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Nexify dengan
Kontinuitas Adalah Kunci Kebangkitan Juventus
Juventus pernah terjebak dalam siklus pergantian pelatih yang terlalu sering di masa lalu. Hal inilah yang ingin dihindari oleh Comolli agar tim memiliki pondasi yang kuat dan tidak labil.
Ia menekankan bahwa gaya main dan chemistry antarpemain butuh waktu untuk mencapai titik masterclass. Spalletti dianggap sebagai sosok yang paling tepat untuk meneruskan tongkat estafet tersebut.
"Jika saya harus menjawab hari ini, saya akan mengatakan kontinuitas," tutur Damien Comolli saat ditanya soal masa depan tim.
Comolli menyoroti betapa buruknya sejarah klub saat terlalu sering melakukan bongkar pasang pelatih.
"Klub ini pernah punya enam, tujuh, hingga delapan pelatih berbeda dalam dua atau tiga tahun," imbuhnya.
Strategi Juventus

Meskipun sepak bola adalah industri emosi, Comolli menegaskan bahwa keputusan strategis harus diambil dengan kepala dingin. Penggunaan data menjadi filter utama bagi Juventus dalam menentukan masa depan pelatih dan pemain.
Manajemen tidak ingin terjebak dalam kepanikan yang biasanya terjadi setelah klub besar tersingkir dari turnamen bergengsi. Bagi mereka, satu hasil pertandingan tidak boleh mengubah visi besar klub yang dimiliki keluarga Agnelli tersebut.
"Pertandingan tunggal tidak boleh mengubah cara kami berpikir," jelas Comolli secara diplomatis.
Ia memiliki prinsip kuat bahwa manajemen dibayar untuk tidak emosional saat mengambil kebijakan krusial.
"Saya selalu katakan pada orang-orang, kita dibayar untuk memberikan emosi, namun dibayar untuk tidak memiliki emosi saat membuat keputusan," pungkasnya.
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Italia 15 Juni 2026 23:59Waduh, Juventus Bakal Ditinggal Sang Bek ke Inggris?
LATEST UPDATE
-
Piala Dunia 16 Juni 2026 19:00Prediksi Piala Dunia 2026: Ceko vs Afrika Selatan 18 Juni 2026
-
Liga Inggris 16 Juni 2026 18:20Seriusan? Liverpool Tertarik Boyong Marcus Rashford?
-
Piala Dunia 16 Juni 2026 18:00Prediksi Piala Dunia 2026: Uzbekistan vs Kolombia Kamis 18 Juni 2026
-
Liga Inggris 16 Juni 2026 17:20MU PHP, Sandro Tonali Bakal Gabung Klub EPL Ini?
BERITA LAINNYA
SOROT
-
Liputan6 16 Juni 2026 18:00Kepala BPOM Beberkan Tantangan Pengawasan Program MBG
-
Liputan6 16 Juni 2026 17:38Cerita Mahasiswa Tentang Pertemuan dengan Wapres Gibran
-
Liputan6 16 Juni 2026 16:45Gempa M 6,7 Palu, Pasien RSUD Sulbar Dievakuasi ke Tenda Darurat
-
Liputan6 16 Juni 2026 16:19Warga Serbu SPBU Usai Gempa Palu, Polisi Batasi Pembelian BBM
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
11 Pemain yang Direkrut Real Madrid Setelah Bersin...
Tak Disangka, 10 Bintang Ini Baru Merasakan Piala ...
Timnas Indonesia Masih Menanti Sejarah, 8 Negara B...
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kand...
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hug...
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel...
4 Pelatih yang Bisa Gantikan Pep Guardiola di Manc...
























