
Nexify - Kabar kepergian Mohamed Salah dari Liverpool di akhir musim nanti terasa seperti pukulan yang datang tiba-tiba. Setelah sembilan tahun membela The Reds, pemain asal Mesir itu akhirnya memilih menutup perjalanannya di Anfield.
Yang ditinggalkan jelas bukan hal kecil. Bukan cuma soal gol demi gol yang selama ini jadi andalan, tapi juga standar profesionalisme yang, jujur saja, sulit ditiru. Di balik dua gelar Premier League dan trofi Liga Champions, ada rutinitas keras yang bahkan membuat rekan setimnya sendiri kadang sampai geleng kepala.
Salah satu yang merasakan langsung “level berbeda” itu adalah Alexis Mac Allister. Gelandang Argentina yang baru bergabung pada 2023 tersebut sempat mencoba mengimbangi kebiasaan latihan Salah. Niatnya sederhana, ingin ikut standar tinggi. Hasilnya? Tidak seindah rencana.
Buat Mac Allister, Salah bukan sekadar rekan setim yang menyenangkan di ruang ganti. Ia adalah contoh ekstrem tentang bagaimana seorang pemain menjaga tubuhnya. Bahkan usaha sekadar datang lebih pagi ke gym pun sering kali sudah kalah langkah.
Tantangan yang Berakhir Cedera Otot

Awalnya Mac Allister cukup pede. Secara usia, ia jauh lebih muda, 24 tahun, sementara Salah sudah 31 tahun. Secara logika, harusnya ia punya keunggulan.
Tapi kenyataan di lapangan berkata lain.
Ketika mencoba mengikuti porsi latihan otot perut ala Salah, tubuhnya langsung 'protes' keras. Bukan saat latihan, melainkan keesokan harinya, ketika semua efeknya terasa.
"Saat pertama kali tiba, saya mencoba bersaing dengannya. Saya pikir, 'Oke, orang ini berusia 31 tahun, saya 24 tahun. Mari kita lakukan latihan otot perut'. Sial, saya rasa saya hanya melakukan tiga sesi dengan Mo sebelum akhirnya menyerah. Saya terbangun keesokan paginya dan merasa sangat sakit hingga nyaris tidak bisa duduk di tempat tidur," kenang Mac Allister saat berbincang dengan The Player's Tribune.
Cerita itu belum selesai. Rasa penasaran eks pilar Brighton ini pun memuncak kala melihat rutinitas tak wajar rekan seniornya tersebut. Ia lantas mempertanyakan pola istirahat Salah yang nyaris terlihat seperti robot tanpa kenal rasa lelah.
"Satu hari saya bertanya padanya, 'Tapi Mo... kapan kamu tidur?'. Dia menjawab, 'Saya tidak suka kalau tidur lebih dari tujuh jam. Saya merasa lelah'. Saya balas, 'Kamu merasa lelah?'. Dan dia berkata, 'Ya, itu terlalu banyak. Kamu hanya butuh enam setengah jam'," ungkapnya lagi.
Dari situ saja sudah terlihat, ritme hidup Salah memang tidak biasa.
Pengaruh Besar Mo Salah

Menariknya, pengaruh Salah tidak hanya terasa di gym. Hal-hal kecil pun ikut berubah, termasuk urusan pakaian saat pemanasan.
Mac Allister mengaku punya kebiasaan lama sejak masih di Brighton: mengenakan celana panjang dan topi saat pemanasan. Baginya itu normal, tidak ada yang aneh.
Sampai satu komentar singkat dari Salah mengubah semuanya.
"Saat melawan Sheffield United, saya keluar untuk pemanasan mengenakan topi dan celana panjang. Mo Salah langsung menegur saya dengan tajam, mempertanyakan apa yang sedang saya lakukan dan kenapa saya memakai pakaian tebal seperti itu. Sejak hari itu, saya tidak pernah lagi memakai celana panjang, hanya karena Mo," ungkapnya di kanal TV resmi Liverpool.
Kedengarannya sepele, tapi dari situ terlihat bagaimana standar yang dibawa Salah merembet ke detail kecil. Tanpa disadari, orang-orang di sekitarnya ikut menyesuaikan diri.
Pengakuan Oxlade-Chamberlain

Cerita soal dedikasi ekstrem Salah juga diamini oleh Alex Oxlade-Chamberlain. Selama enam tahun bersama di Liverpool, ia merasa belum pernah melihat pemain dengan komitmen seperti itu.
Menurutnya, hampir setiap aspek hidup Salah berputar di satu hal: menjaga kondisi tubuh.
"Bicara soal standar pesepak bola profesional, saya belum pernah melihat orang lain melakukan apa yang Mo lakukan setiap jam sepanjang hari," tegas Oxlade-Chamberlain melalui program In The Mixer besutan Sky Bet.
Rahasia kebugaran pemain sayap lincah ini rupanya berpusat pada instalasi pemulihan super canggih di kediaman pribadinya. Fasilitas mewah berharga fantastis tersebut sengaja dirancang khusus demi menjaga kondisi fisiknya agar tetap konsisten meledak di atas lapangan.
"Begitu keluar dari lapangan, dia langsung mengurung diri di pemandian es, bilik es, ruang terapi kriogenik, hingga terapi cahaya merah di rumahnya; siklusnya terus berlanjut tanpa henti dari satu metode ke metode berikutnya," paparnya rinci.
"Dia jelas tidak pernah bermain golf atau sekadar bersantai di waktu luangnya, dia benar-benar mengorbankan segalanya dan tidak punya waktu untuk hal lain," pungkas Oxlade-Chamberlain dengan nada penuh respek.
Advertisement
Berita Terkait
-
Piala Dunia 11 Juli 2026 14:00Mau Kalahkan Norwegia, Inggris Harus Bisa 'Matikan' Erling Haaland
-
Liga Inggris 11 Juli 2026 13:00Gelandang Timnas Prancis Ini Gantikan Ederson di Manchester United?
LATEST UPDATE
-
Liga Italia 11 Juli 2026 19:31Jalan Menuju AS Roma untuk Alejandro Garnacho
-
Bola Indonesia 11 Juli 2026 17:49Alasan Romantis Sandy Walsh Pilih Nomor Punggung 6 di Persib
-
Piala Dunia 11 Juli 2026 17:35Momen Emas Ole Romeny untuk Bangkit Bersama Fortuna Sittard
BERITA LAINNYA
-
inggris 11 Juli 2026 13:00Gelandang Timnas Prancis Ini Gantikan Ederson di Manchester United?
-
inggris 11 Juli 2026 09:30Arsenal Capai Kesepakatan Pribadi dengan Bintang Timnas Brasil Ini
-
inggris 11 Juli 2026 08:30Ederson Batal, Manchester United Incar Gelandang Brasil Lainnya!
SOROT
-
Liputan6 11 Juli 2026 19:51Mahasiswa Ditendang Begal Pulang Beli Rokok, Motor Dibawa Kabur
-
Liputan6 11 Juli 2026 19:24Cerita Petugas Damkar Lepaskan Kepala Kucing Nyangkut Kaleng Makanan
-
Liputan6 11 Juli 2026 19:01Pesan Pertama Jaksa Agung ke Plt Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Makin Panas! 5 Opsi Klub Baru Julian Alvarez, Barc...
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di ...
Dari Pele hingga Gilberto Mora, Inilah 10 Pemain T...
3 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraol...
4 Bek Top yang Jadi Target Real Madrid pada Bursa ...
Man United atau Fenerbahce? 5 Klub yang Bisa Jadi ...
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
























