
Nexify - Kerumunan 75 ribu pasang mata di L.A. Coliseum menjadi saksi runtuhnya naskah indah Inter Miami pada partai pembuka MLS 2026. Alih-alih merayakan gol Lionel Messi, sorak-sorai justru pecah untuk kemenangan telak LAFC tiga gol tanpa balas, Minggu (23/2/2026) pagi WIB.
Di tengah euforia tuan rumah, seorang suporter dengan jersey Argentina nekat merangsek ke lapangan hanya untuk mendekati Messi. Namun, Messi kali ini tak bisa memberikan senyum lebar di bawah bayang-bayang kekalahan memalukan 3-0 tersebut.
Ini adalah laga resmi pertamanya tahun ini, sebuah pembuka jalan menuju ambisi besar di Piala Dunia musim panas mendatang. Sayangnya, bagi Inter Miami, naskah indah "Hollywood" yang mereka rancang tidak berjalan sesuai rencana.
Kondisi fisik Messi menjadi sorotan utama setelah ia sempat dihantam cedera hamstring pada sesi pramusim Februari lalu. Di usia 38 tahun, setiap goresan cedera kini terasa seperti alarm yang memperingatkan batas kemampuan tubuhnya.
Pertanyaan besar pun kini menggantung di udara. Apakah Messi benar-benar sanggup memimpin Argentina sekali lagi di panggung dunia sekeras Piala Dunia 2026?
Sentuhan Messi Mulai Berkarat?

La Pulga tampak kesulitan menemukan ritme permainannya sejak peluit pertama dibunyikan wasit. Sentuhannya tak presisi, bahkan akurasi umpannya sering kali meleset dari target yang biasanya ia kuasai dengan mata tertutup.
Messi secara jujur mengakui bahwa kebugaran adalah syarat mutlak keberadaannya di skuat Albiceleste. Ia belum memberikan komitmen penuh 100 persen untuk turnamen musim panas ini karena ingin melihat respons tubuhnya terlebih dahulu.
"Saya ingin berada di sana, merasa baik dan menjadi bagian penting untuk membantu tim nasional saya, jika saya ada di sana," ujar Messi dalam pernyataan resminya Oktober lalu.
Keinginan kuat untuk tampil di Piala Dunia memang masih menyala di dalam diri pemain bernomor punggung 10 tersebut. Namun, realita fisik tetap menjadi penentu utama.
"Saya akan menilainya hari demi hari saat memulai pramusim tahun depan dan melihat apakah saya benar-benar bisa 100 persen. Saya sangat bersemangat karena ini adalah Piala Dunia," tambahnya dengan penuh harap.
Kalah Pamor dari Son Heung-min

Di sisi lain lapangan, bintang Korea Selatan, Son Heung-min, justru tampil mencuri panggung dengan sebuah assist krusial bagi gol pembuka David Martinez. Tribune stadion pun lebih banyak didominasi warna hitam LAFC ketimbang merah muda khas Miami.
Menariknya, penonton di L.A. Coliseum tak segan-segan menyoraki Messi ketika ia terjatuh di menit-menit akhir laga tanpa mendapatkan hadiah pelanggaran. Tekanan ini seolah menegaskan bahwa status "Pemain Terbaik Sepanjang Masa" tak memberinya kekebalan di musim baru.
Pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, memilih pasang badan atas performa loyo timnya di Los Angeles. Baginya, hasil akhir 3-0 mungkin sedikit menyesatkan jika melihat jalannya penguasaan bola secara keseluruhan.
"Kenyataannya mereka mengalahkan kami dengan jujur, itulah kebenarannya," aku Mascherano dalam sesi konferensi pers usai laga.
Ia menegaskan bahwa tim pelatih tidak akan mengambil keputusan hanya berdasarkan skor akhir semata. Evaluasi gaya bermain tetap menjadi prioritas utama.
"Sebagai staf pelatih, kami harus menganalisis permainan, bukan hanya hasil. Karena jika hanya fokus pada hasil, kami hanya mengambil keputusan berdasarkan menang atau kalah," tegas mantan gelandang Barcelona itu.
Menghitung Mundur Waktu bagi Argentina

Meski tampil di bawah standar, meragukan Messi tetaplah sebuah kesalahan besar bagi siapa pun. Ia masih mampu melepaskan beberapa umpan berbahaya yang nyaris berbuah gol, meski akurasi tembakannya kali ini benar-benar nihil.
Situasi ini membuat pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni, tetap bersikap tenang namun waspada. Ia menyerahkan seluruh keputusan masa depan kepada sang kapten sembari terus memberikan dukungan penuh.
"Dia yang akan memutuskan, dan kami akan mendukung apa pun keputusannya," tutur Lionel Scaloni menanggapi teka-teki kehadiran Messi di Piala Dunia mendatang.
Namun, waktu terus berjalan dan kondisi fisik Messi di MLS akan menjadi indikator kunci dalam beberapa bulan ke depan. Scaloni menyadari bahwa dinamika sepak bola bisa berubah dengan sangat cepat.
"Pada prinsipnya, semuanya berjalan baik, tapi enam bulan adalah waktu yang lama. Masih ada waktu," pungkasnya dengan nada diplomatis.
Advertisement
Berita Terkait
-
Piala Dunia 13 Juni 2026 07:25Hasil, Jadwal, Klasemen, dan Top Skor Piala Dunia 2026
LATEST UPDATE
-
Piala Dunia 13 Juni 2026 07:25Hasil, Jadwal, Klasemen, dan Top Skor Piala Dunia 2026
-
Piala Dunia 13 Juni 2026 07:09Live Streaming Piala Dunia 2026: Amerika Serikat vs Paraguay
BERITA LAINNYA
-
piala dunia 13 Juni 2026 07:25Hasil, Jadwal, Klasemen, dan Top Skor Piala Dunia 2026
-
piala dunia 13 Juni 2026 07:09Live Streaming Piala Dunia 2026: Amerika Serikat vs Paraguay
SOROT
-
Liputan6 13 Juni 2026 07:30Ramai Soal CCTV Bundaran HI, Pemprov DKI Buka Suara
-
Liputan6 13 Juni 2026 06:00Klakson Bersahutan Jadi Simbol Protes Mahasiswa di Jakarta
-
Liputan6 13 Juni 2026 05:45Kereta Gantung Taif dan Jejak Dakwah Rasulullah
-
Liputan6 13 Juni 2026 05:24TNI Jelaskan Peran Pengerahan Prajurit Saat Demo di Bundaran HI
-
Liputan6 13 Juni 2026 00:13Wamen PPPA: Anak Korban Perundungan hingga Koma Berhak Dapat Restitusi
-
Liputan6 12 Juni 2026 23:10Momen Jenderal Polisi Punguti Sampah Usai Kawal Demo
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Chelsea Era Baru: 5 Bintang yang Bisa Bersinar di ...
Masa Depan Marcus Rashford Menggantung! 5 Klub Ini...
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tingga...
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kand...
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hug...
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel...
4 Pelatih yang Bisa Gantikan Pep Guardiola di Manc...

















