
Nexify - Kekalahan telak 0-4 Barcelona dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey menjadi malam yang sulit dilupakan. Tim asuhan Hansi Flick tampil jauh dari standar dan tertinggal empat gol hanya dalam satu babak.
Permainan timpang terlihat sejak menit awal karena intensitas tuan rumah tidak mampu diimbangi oleh barisan tengah dan belakang Barcelona. Tekanan beruntun membuat alur permainan kacau dan setiap upaya membangun serangan berakhir dengan kesalahan sendiri.
Hasil ini membuat jalan menuju final terasa sangat terjal karena selisih gol terlalu besar untuk ukuran fase gugur. Akan tetapi, format dua leg masih menyisakan peluang meski berada di batas logika sepak bola modern.
Barcelona Kalah Segalanya
Penampilan di Riyadh Air Metropolitano menjadi yang terburuk sepanjang musim bagi skuad Flick. Tidak ada satu pun lini yang mampu memberikan fondasi permainan yang stabil selama 90 menit.
Atletico Madrid bermain lebih agresif dalam duel dan lebih cepat dalam transisi. Garis pertahanan tinggi tim tamu mudah ditembus melalui serangan balik yang terukur.
Kesalahan demi kesalahan membuat tempo permainan terus berada di tangan tuan rumah. Serangan yang dibangun sering terhenti sebelum memasuki sepertiga akhir lapangan.
Kontroversi Wasit Mematahkan Ritme Barcelona
Keputusan VAR memakan waktu delapan menit untuk menganulir gol yang seharusnya sah. Jeda panjang tersebut memutus momentum yang sempat muncul di awal babak kedua.
Sistem semi-otomatis dinyatakan bermasalah sehingga garis manual digunakan untuk menilai posisi offside. Dalam situasi perbedaan tipis dan teknologi gagal bekerja normal, seharusnya keuntungan berpihak pada tim penyerang.
Insiden pelanggaran Giuliano Simeone terhadap Alejandro Balde juga luput dari perhatian VAR. Namun, pelanggaran Eric Garcia justru berujung kartu merah setelah peninjauan ulang.
Misi Nyaris Mustahil Barcelona di Leg Kedua
Tertinggal empat gol berarti tim Katalan wajib mencetak minimal empat gol hanya untuk memaksa adu penalti. Rekor mencetak banyak gol memang pernah terjadi, tetapi konteks pertandingan nanti berbeda karena lawan akan bertahan dengan blok rendah.
Kembalinya Pedri, Raphinha, dan Marcus Rashford memberi tambahan opsi serangan yang penting. Dukungan penuh suporter di kandang juga menjadi faktor emosional yang tidak bisa diabaikan.
Namun, membalikkan defisit besar membutuhkan malam yang sempurna dari Lamine Yamal hingga Robert Lewandowski. Saat ini, Barcelona berada di ambang eliminasi dan harus menunjukkan permainan luar biasa jika ingin membalikkan keadaan di Camp Nou nanti.
Sumber: Barca Universal
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Inggris 28 Juli 2026 07:31Respons Manchester City Hadapi Ancaman Real Madrid untuk Rodri
-
Liga Inggris 28 Juli 2026 07:00Manchester United Dapat Kabar Positif soal Kondisi Benjamin Sesko
LATEST UPDATE
-
Liga Inggris 28 Juli 2026 07:00Manchester United Dapat Kabar Positif soal Kondisi Benjamin Sesko
BERITA LAINNYA
-
spanyol 27 Juli 2026 19:00Tinggalkan Real Madrid, Gonzalo Garcia Bakal Mengadu Nasib ke Inggris?
SOROT
-
Liputan6 28 Juli 2026 06:29Febrie Adriansyah Pertanyakan Dasar Penetepan Tersangka TPPU
-
Liputan6 28 Juli 2026 06:05Fakta-fakta Kematian Tragis Dokter Internship di Apartemen Kalibata
-
Liputan6 28 Juli 2026 05:23Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembunuhan Ayah dan Anak di Palu
-
Liputan6 28 Juli 2026 05:05Gebrakan Sudaryono 5 Hari Pimpin BGN
-
Liputan6 28 Juli 2026 00:11Pilu Bocah di Sukabumi, Tubuh Melepuh Akibat Disiram Bibi Air Panas
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Makin Panas! 5 Opsi Klub Baru Julian Alvarez, Barc...
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di ...
Dari Pele hingga Gilberto Mora, Inilah 10 Pemain T...
3 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraol...
4 Bek Top yang Jadi Target Real Madrid pada Bursa ...
Man United atau Fenerbahce? 5 Klub yang Bisa Jadi ...
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
























