2 Penguasa Perempuan Malang Buktikan UMKM Bisa Tumbuh Bersama KUR BRI Lewat Keripik Tempe dan Kosmetik

2 Penguasa Perempuan Malang Buktikan UMKM Bisa Tumbuh Bersama KUR BRI Lewat Keripik Tempe dan Kosmetik
Suasana di dapur Keripik Tempe Rohani (c) Asad Arifin

Nexify - Kampung Sanan di Kota Malang sejak lama sohor sebagai 'kampung tempe'. Di sana, deretan rumah dan ruko berjualan aneka produk tempe, termasuk keripik tempe yang biasanya diburu wisatawan sebagai oleh-oleh usai berwisata di Malang.

Salah satu toko oleh-oleh yang terdapat di Sanan adalah Keripik Tempe Rohani. Usaha ini bukan dari rencana bisnis besar, melainkan dari upaya sederhana memanfaatkan tempe yang tidak habis terjual pada 1988 silam.

Saat itu, orang tua Maria Ulfa merupakan pengusaha tempe di Kampung Sanan. Namun, seperti usaha lainnya, penjualan tidak selalu berjalan mulus. Ada tempe yang tersisa dan belum terserap pasar.

Alih-alih membiarkannya terbuang, sang ibu mengolah tempe tersebut menjadi camilan. Dari dapur sederhana itulah, keripik tempe yang kemudian dikenal sebagai Keripik Tempe Rohani mulai menemukan jalannya.

“Awalnya, orang tua saya, khususnya ayah, adalah pengusaha tempe di Kampung Sanan, Malang. Karena jualan tempe itu tidak selalu habis setiap hari, maka tempe sisa itu akhirnya diolah oleh ibu saya menjadi keripik tempe. Dan ternyata respons pasar sangat baik,” kenang Maria.

Pada awal perjalanan, keripik tempe buatan keluarga Maria masih dijual tanpa merek di pasar-pasar sekitar Malang. Namun, setelah semakin sohor, Rohani dipilih sebagai merek dagang. Rohani adalah nama dari ayah Maria atau sang perintis usaha.

KUR BRI Jadi Modal untuk Mengembangkan Keripik Tempe Rohani

Suasana di Keripik Tempe Rohani, usaha keluarga yang berkembang berkat bantuan dari KUR BRI (c) Asad ArifinSuasana di Keripik Tempe Rohani, usaha keluarga yang berkembang berkat bantuan dari KUR BRI (c) Asad Arifin

Perlahan, Keripik Tempe Rohani mulai dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Malang. Memasuki era 2000-an, usaha ini mulai bertransformasi menjadi bisnis yang lebih terstruktur dengan kapasitas produksi yang meningkat.

Tahun 2011 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Keripik Tempe Rohani. Saat itu, keluarga Maria memutuskan memperluas usaha dengan membeli ruko di pinggir jalan utama Kota Malang.

Langkah tersebut menjadi titik perubahan karena usaha yang sebelumnya berjalan dari skala rumahan mulai memiliki tempat produksi dan penjualan yang lebih representatif.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, Maria memanfaatkan dukungan pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Bagi Maria, dukungan modal tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis keluarganya.

“Pada tahun 2011 kami mengajukan pembiayaan melalui program KUR dari BRI. Dana itu digunakan untuk membeli ruko, yang sampai sekarang menjadi pusat usaha. Modal dari BRI itu seperti oksigen bagi usaha kami,” jelas Maria.

Dengan tambahan modal, kapasitas produksi Keripik Tempe Rohani meningkat. Mereka juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Kini, sekitar 30 orang terlibat dalam proses produksi hingga pemasaran Keripik Tempe Rohani.

“Setelah punya ruko dan produksi bertambah, kami merekrut karyawan dari lingkungan sekitar. Sekarang, total tim kami ada sekitar 30 orang yang bekerja di bagian produksi dan pemasaran. Jadi bisa dikatakan peran BRI sangat penting di fase krusial itu hingga bisa seperti saat ini,” lanjutnya.

KUR BRI Bantu Novi Lapak Unique Kosmetik Punya 6 Cabang

Seorang pelanggan sedang memilih produk di Lapak Unique Kosmetik Kota Malang (c) Asad ArifinSeorang pelanggan sedang memilih produk di Lapak Unique Kosmetik Kota Malang (c) Asad Arifin

Kisah Maria menunjukkan bagaimana sosok perempuan bisa menjadi penggerak ekonomi dan membuka usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Cerita serupa juga dialami oleh Novi Anggraini, perempuan asal Malang lainnya yang membangun bisnis berbeda melalui Lapak Unique Kosmetik.

Pada 2016, Novi memulai Lapak Unique Kosmetik dari rumahnya di Malang. Saat itu, seluruh aktivitas bisnis dilakukan secara daring. Ia memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial untuk menjual berbagai produk kecantikan.

Namun, meningkatnya jumlah pelanggan juga menghadirkan tantangan baru. Banyak pembeli yang datang langsung ke rumah untuk mengambil barang sehingga membuat lingkungan sekitar kurang nyaman.

“Awalnya pelanggan datang ke rumah untuk mengambil barang, tapi lama-lama parkiran penuh terus dan saya tidak enak sama tetangga,” ujar Novi.

Melihat kondisi tersebut, pada 2018 Novi memutuskan menyewa ruko kecil di kawasan Mulyorejo, Kota Malang, sebagai tempat usaha. Langkah itu menjadi awal perubahan besar bagi Lapak Unique Kosmetik. Pada 2020, Novi membuka toko offline pertamanya.

Ternyata, kehadiran toko fisik mendapat respons positif dari pelanggan. Pengunjung terus meningkat dan membuka peluang baru untuk ekspansi.

"Dari situ kami melihat ada potensi yang besar di toko fisik, sehingga kami memutuskan untuk membuka cabang. Pada saat itulah kami mulai mengambil pendanaan dari BRI lewat program KUR,” kata Novi Anggraini.

Sejak 2021, Novi telah tiga kali memanfaatkan fasilitas KUR BRI untuk memperkuat modal usaha dan membuka cabang baru. Menurutnya, bunga yang rendah membuat pengembangan bisnis menjadi lebih terukur tanpa tekanan biaya yang terlalu besar.

“Menurut saya, KUR dari BRI sangat membantu karena bunganya rendah. Kami bisa berkembang tanpa harus terbebani biaya tambahan yang berat,” jelasnya.

Kini, Lapak Unique Kosmetik telah berkembang menjadi jaringan toko dengan enam cabang di Malang. Pertumbuhan usaha tersebut juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar. Dari awalnya hanya memiliki 13 karyawan di toko pertama, kini Novi mempekerjakan 55 orang.

KUR BRI Perkuat Ekonomi Berbasis UMKM

Ilustrasi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI yang memberi banyak manfaat bagi pelaku UMKM (c) Dibuat oleh AI/ChatGPTIlustrasi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI yang memberi banyak manfaat bagi pelaku UMKM (c) Dibuat oleh AI/ChatGPT

Maria Ulfa dan Novi Anggraini jadi contoh bahwa usaha bisa berkembang jika dapat dukungan yang tepat, termasuk permodalan yang hadir lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Bukan hanya sekadar untuk menambah modal finansial, KUR BRI juga bisa jadi awal bagi UMKM untuk 'naik kelas'.

Tito Witarnawan, Regional Micro Banking Head BRI Region Malang, memaparkan data jika penyaluran KUR di wilayah kerjanya telah menjangkau 117.387 debitur hingga Maret 2026. Sementara, total modal yang disalurkan pada pelaku usaha mencapai Rp 5.557 triliun.

Menurut Tito, dengan pembiayaan yang memadai dan akses permodalan yang lebih mudah melalui KUR, pelaku usaha di berbagai daerah di wilayah Malang dan memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas usahanya. Selain itu, mereka juga bisa membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.

“Ini merupakan bagian dari peran BRI dalam memperkuat ekonomi berbasis UMKM di daerah. Selain memperluas akses pembiayaan, BRI juga mendorong peningkatan kapasitas UMKM melalui berbagai program pemberdayaan," kata Tito.

"Upaya ini dilakukan agar pelaku usaha tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga mampu mengelola usaha secara lebih baik dan berkelanjutan,” sambungnya.

Ke depannya, BRI Regional Office Malang akan terus mendorong penyaluran KUR dengan fokus pada sektor produktif. Berkaca dari kisah sukses Maria Ulfa dan Novi Anggraini, BRI yakin pembiayaan yang diberikan dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan usaha masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya berupa modal usaha saja tapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya. Kami juga terus mengedukasi pelaku usaha untuk melek digital," terang Tito.