Bukan Sekadar Adu Cepat, Media Maxi Race Yamaha Sunday Race 2026 Penuh Tawa dan Saling Ledek

Bukan Sekadar Adu Cepat, Media Maxi Race Yamaha Sunday Race 2026 Penuh Tawa dan Saling Ledek
Suasana di podium kelas Media Maxi Race Yamaha Sunday Race 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika (c) Asad Arifin

Nexify - Suara tawa terdengar lebih sering daripada raungan mesin di paddock Media Maxi Race Yamaha Sunday Race 2026. Candaan, saling ledek, hingga obrolan ringan menjadi pemandangan yang mewarnai persiapan para peserta sebelum turun ke lintasan Sirkuit Internasional Mandalika.

Namun, suasana itu berubah seketika ketika lampu start padam. Para jurnalis dan pekerja media yang sehari-hari bertugas meliput balapan menjelma menjadi rival yang saling berebut posisi di setiap tikungan.

Kontras itulah yang membuat Media Maxi Race memiliki daya tarik tersendiri dalam rangkaian Yamaha Sunday Race. Persaingan berlangsung serius di atas aspal, tetapi begitu bendera finis dikibarkan, semua kembali menjadi teman yang saling bercanda dan berbagi cerita.

Atmosfer seperti itu menjadi bukti bahwa balapan tidak selalu identik dengan rivalitas yang kaku. Di kelas Media Maxi Race, kompetisi justru menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan di antara para pelaku media yang memiliki hobi yang sama, yakni menggeber motor di sirkuit.

Sengit di Tikungan, Hangat Ketika Kembali ke Paddock

Media Maxi Race menjadi salah satu kelas unik dalam Yamaha Sunday Race 2026. Berbeda dengan kelas profesional atau pembinaan pembalap muda, kategori ini memberikan kesempatan kepada insan media untuk merasakan langsung sensasi balapan di lintasan internasional.

Persaingan di Mandalika berlangsung ketat sejak lap pertama. Meski menggunakan motor skutik standar, para peserta tetap berusaha mencari racing line terbaik dan memanfaatkan setiap peluang untuk menyalip lawan.

Pada akhirnya, Eka Budiansyah berhasil keluar sebagai pemenang. Posisi kedua ditempati Ainto Harry Budiman, sedangkan Yugo Winanto melengkapi podium di peringkat ketiga.

Menariknya, ketatnya persaingan di lintasan tidak menghilangkan rasa saling menghormati. Bahkan, setelah balapan usai, candaan soal duel di tikungan justru menjadi bahan obrolan yang memancing gelak tawa di paddock.

Ajang Melepas Rindu Sekaligus Membuktikan Diri

Bagi Ainto Harry Budiman, balapan di Mandalika bukan pengalaman baru. Namun, menggunakan motor skutik standar memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

"Saya sudah balapan di Mandalika beberapa kali, dengan beberapa motor yang berbeda. Tapi, ini yang pertama pakai matic dan seru karena motornya standar," buka Ainto.

Ainto juga mengaku sempat memiliki peluang untuk melakukan manuver pada tikungan terakhir. Namun, ia memilih menahan diri karena lawan yang dihadapinya merupakan sosok yang lebih senior di dunia balap.

"Tadi ada rasa tidak enak karena yang satu itu kan sudah senior. Tadi tikungan terakhirnya harusnya bisa masuk, tapi jangan deh. Senior," ucap Ainto.

Sementara itu, kemenangan menjadi momen emosional bagi Eka Budiansyah. Ia mengaku sudah sangat lama tidak merasakan atmosfer balapan sejak terakhir kali turun di Sirkuit Kemayoran pada 2001, tetapi tetap menjaga kebugaran agar mampu kembali bersaing.

"Kerinduan pada sirkuit akhirnya bisa tampil lagi. Kalau terakhir balap sih 2001 di Kemayoran. Sampai sekarang masih sering gym supaya tidak kaku," buka Eka Budiansyah.

Hasil tersebut sekaligus menjadi pembuktian bahwa pengalaman tetap memiliki nilai tinggi di lintasan balap. Ia juga mengaku terkesan dengan performa Yamaha LEXi yang digunakannya.

"Untuk motor Lexi ternyata tidak kalah dengan motor-motor lain. Awalnya saya agak ragu dengan motor ini dibanding dengan motor teman-teman lainnya, akan tetapi setelah saya pakai justru terasa enak untuk akselerasi," tegas Eka Budiansyah.