
Nexify - Lionel Messi kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026. Kapten Argentina itu mencetak dua gol saat timnya mengalahkan Austria dan sekaligus memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia putra.
Namun, di tengah pencapaian luar biasa tersebut, ada satu momen yang kembali memunculkan perdebatan lama. Sebelum mencetak dua golnya, Messi lebih dulu gagal mengeksekusi penalti pada awal pertandingan.
Bagi pemain yang dianggap sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa, catatan penalti Messi ternyata tidak seistimewa aspek lain dalam permainannya. Statistik menunjukkan bahwa penalti justru menjadi salah satu kelemahan paling nyata dalam karier sang megabintang.
Statistik Penalti Messi Ternyata Tidak Istimewa

Kegagalan penalti melawan Austria menjadi kali ketiga Messi gagal mencetak gol dari tujuh penalti yang ia ambil dalam waktu normal pertandingan Piala Dunia.
Sebelumnya, tendangan penalti Messi pernah digagalkan oleh Wojciech Szczesny saat menghadapi Polandia pada Piala Dunia 2022. Jauh sebelumnya, kiper Islandia Hannes Thor Halldorsson juga berhasil menghentikan eksekusi Messi pada edisi 2018.
Jika diperluas ke level internasional, Messi mencetak 25 gol dari 31 penalti bersama Argentina. Sementara sepanjang karier profesionalnya di level klub dan tim nasional, ia membukukan 116 gol dari 149 penalti.
Artinya, tingkat keberhasilan Messi berada di angka sekitar 77 persen. Angka tersebut sebenarnya masih tergolong baik, tetapi sedikit di bawah rata-rata para eksekutor penalti elite dunia.
Bukan Karena Kaki Kiri Messi

Salah satu anggapan yang cukup sering muncul adalah bahwa pemain berkaki kiri cenderung kurang efektif saat mengambil penalti dibanding pemain berkaki kanan.
Namun, data statistik tidak mendukung teori tersebut. Jumlah pemain berkaki kiri memang jauh lebih sedikit dibanding pemain berkaki kanan sehingga volume penalti yang mereka ambil juga lebih rendah.
Bahkan, dalam beberapa kasus, pemain kidal justru memiliki keuntungan tersendiri. Karena lebih jarang dihadapi, penjaga gawang kerap kesulitan membaca arah tembakan mereka.
Messi sendiri sudah menunjukkan kemampuan mengambil penalti sejak usia muda. Pada Piala Dunia U-20 tahun 2005, ia mencetak dua gol penalti ketika Argentina mengalahkan Nigeria 2-1 di final. Kedua tendangan itu dieksekusi dengan tenang dan membuat kiper lawan bergerak ke arah yang salah.
Efek Tekanan Psikologis di Lapangan

Kegagalan penalti Messi melawan Austria dinilai bukan sekadar persoalan teknik. Ada unsur duel psikologis yang turut berperan besar dalam momen tersebut.
Penalti diberikan setelah tinjauan VAR terhadap pelanggaran Stefan Posch terhadap Lautaro Martinez. Situasi itu membuat Messi memiliki waktu lebih dari lima menit untuk memikirkan eksekusinya.
Saat mengambil ancang-ancang pendek, Messi memperlambat dua langkah terakhirnya. Tujuannya adalah memancing kiper Austria, Alexander Schlager, agar bergerak lebih dulu.
Namun Schlager tidak terpancing. Ia tetap berdiri tegak dengan kedua tangan terbuka dan menunggu hingga detik terakhir. Ketika Messi akhirnya melepaskan tembakan, konsentrasinya sedikit terganggu dan bola melenceng ke sisi kanan gawang.
"Saya marah. Saya menendangnya dengan sangat buruk," kata Messi setelah pertandingan.
Pakar penalti Geir Jordet menilai situasi tersebut menjadi contoh bagaimana penjaga gawang modern kini semakin memahami karakter pengambil penalti yang bergantung pada pergerakan kiper.
Kreativitas yang Kadang Menjadi Bumerang

Berbeda dengan banyak eksekutor penalti elite, Messi tidak memiliki pola tendangan yang benar-benar konsisten.
Harry Kane, misalnya, dikenal dengan tendangan keras menyilang ke satu sisi. Jorginho memiliki teknik khas dengan lompatan kecil sebelum menendang. Banyak pemain lain juga mengandalkan rutinitas yang sama berulang kali.
Messi justru sebaliknya. Ia sering berganti-ganti metode. Kadang menggunakan kaki bagian dalam, kadang dengan punggung kaki, sesekali menembak keras ke sudut atas, dan tak jarang mencoba penalti panenka.
Pada Piala Dunia 2022, pendekatan itu berjalan sangat baik. Messi berhasil mencetak enam gol dari tujuh penalti yang ia ambil, termasuk dalam final melawan Prancis dan perempat final kontra Belanda.
Dalam semifinal menghadapi Kroasia, ia bahkan menggunakan pendekatan yang berbeda lagi. Tanpa terlalu memperhatikan pergerakan Dominik Livakovic, Messi melepaskan tendangan keras ke bagian atas gawang yang tak mampu dihentikan sang kiper.
Kebiasaan mengandalkan insting dan improvisasi membuat Messi sulit ditebak. Namun pada saat yang sama, pendekatan tersebut juga membuat tingkat keberhasilannya tidak selalu setinggi para spesialis penalti yang mengandalkan rutinitas baku.
Tetap Hebat Meski Memiliki Satu Kekurangan
Sepanjang kariernya, Messi hampir selalu gagal menuntaskan satu musim penuh tanpa setidaknya sekali gagal mengeksekusi penalti.
Ia pernah membentur mistar lewat penalti panenka saat menghadapi Ekuador di Copa America. Teknik yang sama juga pernah gagal ketika menghadapi Charlotte FC dalam laga level klub.
Meski demikian, kelemahan tersebut nyaris tidak pernah mengurangi statusnya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Buktinya terlihat jelas saat melawan Austria. Setelah gagal mengeksekusi penalti, Messi bangkit dan mencetak dua gol yang membuatnya memecahkan rekor gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia putra.
Tak ada pemain yang sempurna. Bahkan sosok seperti Messi tetap memiliki kekurangan. Dan jika ada satu area yang paling sering mengingatkan publik bahwa ia juga manusia biasa, area itu adalah titik penalti.
Advertisement
Berita Terkait
LATEST UPDATE
BERITA LAINNYA
-
piala dunia 23 Juni 2026 14:29Thomas Tuchel Punya Resep Unik untuk Inggris: Jangan Ganggu Musiknya
SOROT
-
Liputan6 23 Juni 2026 16:47Nadiem: Saya Dibilang Terlalu 'Lempeng' di Pemerintahan
-
Liputan6 23 Juni 2026 16:42Depan Hakim, Nadiem Ungkap Keluarga Sarankan Tolak Jabatan Menteri
-
Liputan6 23 Juni 2026 16:26Kejagung Tolak Sony Sonjaya Jadi Justice Collaborator
-
Liputan6 23 Juni 2026 16:07Kronologi Kebakaran Toko Material di Setiabudi
-
Liputan6 23 Juni 2026 16:03Dituduh Punya Ilmu Santet, Pria di NTT Dimutilasi
-
Liputan6 23 Juni 2026 16:02Kebakaran di Setiabudi Berasal dari Toko Material
HIGHLIGHT
6 Calon Pengganti Marc Cucurella di Chelsea, Ada B...
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di ...
Dari Pele hingga Gilberto Mora, Inilah 10 Pemain T...
3 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraol...
4 Bek Top yang Jadi Target Real Madrid pada Bursa ...
Man United atau Fenerbahce? 5 Klub yang Bisa Jadi ...
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya





















