Timnas Soft Tennis Indonesia Tatap Asian Games Nagoya 2026: Target 3 Medali di Tengah Dominasi Jepang dan Korea

Timnas Soft Tennis Indonesia Tatap Asian Games Nagoya 2026: Target 3 Medali di Tengah Dominasi Jepang dan Korea
Timnas Soft Tennis Indonesia mematangkan persiapan menuju Asian Games Nagoya 2026 (c) Istimewa

Nexify - Timnas Soft Tennis Indonesia terus mematangkan persiapan menuju Asian Games Nagoya-Aichi 2026. Memasuki fase akhir pemusatan latihan nasional, tujuh atlet Merah Putih mulai diarahkan untuk mencapai performa terbaik saat kompetisi berlangsung di Jepang.

Persiapan tersebut telah berjalan sejak Maret 2026 dan kini memasuki bulan kelima. Selain pematangan aspek teknik, fisik, dan mental, pengalaman dari try out internasional di Korea Selatan menjadi modal penting untuk membaca peta persaingan di level Asia.

Indonesia akan turun di lima nomor pertandingan, yakni tunggal putra, ganda putra, tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Dari tujuh atlet yang dibawa, Indonesia mematok target tiga medali berupa dua perak dan satu perunggu.

Tantangan yang dihadapi tidak ringan. Jepang, Korea Selatan, dan China Taipei masih menjadi kekuatan dominan dalam soft tennis Asia, tetapi tim pelatih menilai peluang Indonesia tetap terbuka jika para atlet mampu mencapai performa optimal pada saat yang tepat.

5 Bulan Pelatnas, Timnas Soft Tennis Indonesia Masuk Fase Pemantapan

5 Bulan Pelatnas, Timnas Soft Tennis Indonesia Masuk Fase Pemantapan

Manajer Tim Soft Tennis Indonesia untuk Asian Games Nagoya 2026, Ferly Montolalu (c) Istimewa

Manajer Tim Soft Tennis Indonesia untuk Asian Games Nagoya 2026, Ferly Montolalu, menjelaskan bahwa pelatnas telah dimulai sejak Maret 2026. Artinya, tim sudah memiliki waktu sekitar lima bulan untuk membangun kesiapan sebelum bertolak ke Jepang pada 15 September 2026.

“Kami mulai persiapan sejak bulan Maret dan sudah berjalan sekitar lima bulan sampai Agustus ini. Kami akan berangkat ke Asian Games pada 15 September 2026,” kata Ferly.

Salah satu bagian penting dalam rangkaian persiapan tersebut adalah try out di Korea Selatan. Indonesia mengikuti dua turnamen internasional dan berhasil membawa pulang tiga medali perunggu melalui nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran.

“Dari try out di Korea, kami sudah mendapatkan gambaran calon lawan yang akan dihadapi di Asian Games. Jepang, Korea, dan China Taipei masih menjadi negara yang cukup dominan di cabang soft tennis,” ujarnya.

Pelatih putri Gularso Mulyadi memperkirakan performa anak asuhnya sudah mencapai sekitar 80 persen dari kondisi ideal. Sisa waktu sekitar satu bulan akan dimanfaatkan untuk memperbaiki detail-detail pukulan yang dapat menentukan hasil pertandingan.

“Kalau saya lihat, persiapan mereka sekarang sudah sekitar 80 persen. Dengan sisa waktu kurang lebih satu bulan, kami akan memaksimalkan detail-detail pukulan agar permainan mereka semakin sempurna,” kata Gularso.

Target 3 Medali dan Tantangan dari Kekuatan Utama Asia

Target 3 Medali dan Tantangan dari Kekuatan Utama Asia

Vice CdM Asian Games Nagoya 2026, Harry Warganegara, mengunjungi Pelatnas Soft Tennis Indonesia di Wisma Antam (c) Istimewa

Indonesia membawa tujuh atlet ke Asian Games Nagoya 2026, terdiri atas lima putra dan dua putri. Mereka akan berkompetisi di lima nomor, sementara target yang ditetapkan adalah dua medali perak dan satu perunggu dari nomor beregu putra, ganda campuran, dan tunggal putri.

Target tersebut tidak datang tanpa perhitungan. Gularso menilai sasaran dua medali perak masih realistis, bahkan peluang untuk meraih hasil lebih tinggi tetap terbuka jika para atlet mampu menunjukkan permainan terbaik.

“Target dua perak itu realistis. Tetapi bukan tidak mungkin kalau nanti kami bisa mendapatkan emas,” ujarnya.

Optimisme juga muncul dari para atlet. Tio Juliandi Hutauruk, yang akan tampil di nomor tunggal putra dan beregu, menegaskan bahwa dirinya bersama rekan-rekannya telah menjalani persiapan secara maksimal dan kini memanfaatkan fase akhir untuk meningkatkan kualitas latihan.

“Persiapan Asian Games ini sudah kami lakukan dengan matang. Latihan juga kami maksimalkan dan kebutuhan selama pelatnas cukup. Karena sudah tidak ada turnamen lagi, sekarang kami fokus memaksimalkan latihan,” ujar Tio.

Tio memilih tidak membebani diri dengan target medali tertentu. Baginya, ukuran keberhasilan utama adalah kemampuan memberikan penampilan maksimal ketika mengenakan seragam Indonesia di Nagoya.

“Sebagai atlet tentu kami ingin memberikan hasil yang terbaik untuk Asian Games ini. Apa pun hasilnya, perunggu, perak, atau emas, yang terpenting kami bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya.

Di luar persiapan teknis, kesiapan kontingen juga mendapat perhatian dari tim Chef de Mission. Vice CdM Asian Games Nagoya 2026, Harry Warganegara, mengunjungi Pelatnas Soft Tennis Indonesia di Wisma Antam, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026), untuk memastikan kebutuhan nonteknis atlet dan ofisial dapat dipersiapkan dengan baik.

“Untuk hal-hal teknis, khususnya seperti yang ada di soft tennis ini, kami serahkan kepada cabang olahraga, pengurus, dan pelatih. Tugas kami lebih kepada memastikan kebutuhan nonteknis atlet dan ofisial dapat terpenuhi dengan baik,” jelas Harry.