Dari Brasil hingga Uzbekistan: Cara Baru Mengukur Kesuksesan di Piala Dunia 2026

Dari Brasil hingga Uzbekistan: Cara Baru Mengukur Kesuksesan di Piala Dunia 2026
Para pemain Brasil merayakan gol pada laga Grup C Piala Dunia 2026 antara Brasil vs Maroko di East Rutherford, New Jersey, dekat New York, Sabtu, 13 Juni 2026 (c) AP Photo/Adam Hunger

Nexify - Kemenangan Skotlandia atas Haiti membuka peluang besar bagi mereka untuk lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026. Jika berhasil, itu akan menjadi kali pertama Skotlandia melewati fase grup sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di turnamen tersebut.

Namun, format baru Piala Dunia yang kini diikuti 48 tim membuat ukuran keberhasilan menjadi lebih rumit. Dalam beberapa kasus, lolos ke babak 16 besar justru belum tentu lebih baik dibanding pencapaian generasi sebelumnya ketika jumlah peserta jauh lebih sedikit.

Situasi itu tidak hanya dialami Skotlandia. Banyak negara peserta Piala Dunia 2026 menghadapi dilema serupa saat mencoba membandingkan prestasi mereka saat ini dengan sejarah yang telah mereka ukir sebelumnya.

Juara Dunia Masih Punya Target Baru

Juara Dunia Masih Punya Target Baru

Penyerang Argentina, Lautaro Mart?nez beraksi pada laga uji coba melawan Islandia, 10 Juni 2026 jelang Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Butch Dill

Tujuh negara peserta Piala Dunia 2026 pernah merasakan gelar juara dunia, yakni Brasil, Jerman, Argentina, Prancis, Uruguay, Inggris, dan Spanyol.

Meski sudah pernah mencapai puncak, beberapa negara masih memiliki target sejarah yang belum pernah dicapai. Inggris, misalnya, belum pernah menjuarai Piala Dunia di luar negaranya sendiri setelah sukses pada 1966.

Uruguay dan Prancis juga memiliki tantangan serupa. Keduanya belum pernah mengangkat trofi di luar benua asal masing-masing.

Sementara itu, Argentina datang sebagai juara bertahan dan berusaha mempertahankan gelar untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Sebelumnya, hanya Italia dan Brasil yang mampu mempertahankan status juara dunia secara beruntun.

Di bawah kelompok juara dunia terdapat negara-negara yang pernah menjadi finalis tanpa berhasil mengangkat trofi. Kroasia, Belanda, Swedia, serta Republik Ceko yang meraih prestasi tersebut saat masih bernama Cekoslowakia, masuk dalam kategori ini.

Semifinalis dan Negara yang Pernah Hampir Menyentuh Final

Semifinalis dan Negara yang Pernah Hampir Menyentuh Final

Momen selebrasi gol skuad Portugal dalam laga uji coba internasional antara Amerika Serikat vs Portugal di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, 1 April 2026 (c) AP Photo/Mike Stewart

Austria, Belgia, Portugal, dan Turki memiliki pencapaian terbaik berupa finis di posisi ketiga. Meski pertandingan perebutan tempat ketiga sering dianggap kurang bergengsi, catatan tersebut tetap menunjukkan bahwa mereka pernah mencapai empat besar dunia.

Amerika Serikat menempati kategori yang unik. Mereka pernah mengakhiri turnamen sebagai tim peringkat ketiga bersama pada masa awal penyelenggaraan Piala Dunia, sebuah status yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan dalam pencatatan sejarah.

Sementara itu, Korea Selatan dan Maroko sama-sama pernah mencapai semifinal sebelum akhirnya finis di posisi keempat. Korea Selatan melakukannya pada 2002, sedangkan Maroko menciptakan sejarah bagi Afrika pada 2022.

Prestasi kedua negara itu masih menjadi pencapaian terbaik yang pernah diraih wakil Asia dan Afrika di Piala Dunia. Karena itu, mencapai semifinal kembali akan menjadi target besar bagi keduanya pada edisi 2026.

Tim yang Harus Melampaui Babak Gugur untuk Menyamai Sejarah

Tim yang Harus Melampaui Babak Gugur untuk Menyamai Sejarah

Starting XI Timnas Haiti sebelum kickoff melawan Selandia Baru, 3 Juni 2026 pada laga uji coba jelang Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Rebecca Blackwell

Kerumitan terbesar muncul pada negara-negara yang sebelumnya tampil di era ketika jumlah peserta hanya 16 tim. Dalam format lama tersebut, sekadar lolos ke putaran final sudah merupakan pencapaian yang sangat besar.

Aljazair menjadi salah satu contoh menarik. Mereka pernah mencapai babak 16 besar pada 2014 sebelum disingkirkan Jerman yang kemudian menjadi juara dunia. Untuk menyamai pencapaian itu, Aljazair tidak cukup hanya lolos dari fase grup, tetapi juga harus melewati satu putaran fase gugur.

Skotlandia menghadapi situasi serupa. Mereka pernah tampil pada Piala Dunia dengan format 16, 24, 32, hingga kini 48 peserta. Pada edisi 1974, Skotlandia bahkan gagal lolos meski tidak terkalahkan dalam grup yang berisi Brasil dan Yugoslavia. Mereka tersingkir hanya karena kalah selisih gol.

Tunisia juga memiliki kisah yang sering terlupakan. Negara Afrika Utara tersebut memang belum pernah mencapai fase gugur. Namun, mereka pernah lolos ke Piala Dunia 1978 ketika Afrika hanya mendapat satu slot. Dalam konteks zamannya, pencapaian itu dianggap sangat prestisius.

Haiti pun memiliki sejarah panjang. Mereka tampil pada Piala Dunia 1974 dan menghadapi lawan-lawan berat seperti Italia, Polandia, serta Argentina.

Kanada dan Selandia Baru Jadi Kasus Khusus

Kanada dan Selandia Baru Jadi Kasus Khusus

Selebrasi Cyle Larin usai mencetak laga di laga Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026, Sabtu (13/6/2026). (c) AP Photo/Sam Balkansky

Kanada, Selandia Baru, dan Irak termasuk negara yang pernah tampil pada era Piala Dunia 24 tim. Situasi mereka sedikit berbeda dibanding negara lain.

Selandia Baru lolos ke Piala Dunia 1982 setelah melewati jalur kualifikasi yang berat. Mereka bahkan finis di atas Australia pada fase awal kualifikasi sebelum mengalahkan Arab Saudi dalam play-off.

Karena format 24 tim sudah tidak digunakan lagi, Selandia Baru kini harus mencapai babak 16 besar untuk benar-benar melampaui pencapaian terbaik mereka sebelumnya. Pada saat yang sama, mereka juga masih memburu kemenangan pertama sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia.

Kanada menghadapi dilema yang hampir sama. Sebelum Piala Dunia 2026, mereka selalu kalah dalam enam pertandingan yang dijalani pada edisi 1986 dan 2022. Hasil imbang melawan Bosnia dan Herzegovina pada laga pembuka tahun ini menjadi pencapaian penting.

Meski demikian, secara historis, lolos sebagai satu-satunya wakil Concacaf ke Piala Dunia 1986 yang berformat 24 tim masih dianggap pencapaian yang lebih besar dibanding tampil otomatis sebagai tuan rumah pada turnamen 48 tim.

Debutan yang Diuntungkan Ekspansi Turnamen

Piala Dunia 2026 menghadirkan empat negara debutan, yaitu Tanjung Verde, Curacao, Yordania, dan Uzbekistan. Jumlah tersebut sebenarnya tidak terlalu banyak mengingat turnamen kini diikuti 48 tim.

Namun, status debutan juga tidak selalu berarti negara tersebut berada pada level terbaik dalam sejarah mereka. Uzbekistan menjadi contoh paling jelas.

Meski baru pertama kali tampil di putaran final, Uzbekistan sebenarnya pernah mendekati kelolosan pada kualifikasi Piala Dunia 2018. Saat itu mereka finis di jajaran delapan besar Asia.

Dengan kata lain, jika format 48 peserta sudah diterapkan pada 2018, Uzbekistan kemungkinan besar sudah tampil di Rusia.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi turnamen membuat lebih banyak negara mendapatkan kesempatan bermain di Piala Dunia, tetapi tidak selalu mencerminkan peningkatan kualitas yang signifikan dibanding generasi sebelumnya.